CARAPANDANG - Para peneliti China telah mengembangkan pendekatan baru untuk meningkatkan kinerja baterai litium-sulfur secara signifikan, sebuah terobosan yang suatu hari nanti dapat memungkinkan drone untuk terbang jauh lebih jauh dengan sekali pengisian daya.
Penelitian tersebut, yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal Nature, membuka jalan baru menuju baterai yang lebih tahan lama dan lebih bertenaga untuk penerbangan ketinggian rendah (low-altitude) dan bidang-bidang lainnya.
Sebagian besar drone konvensional saat ini mengandalkan baterai lithium-ion, yang sudah mendekati batas kapasitas densitas energinya. Densitas energi tersebut, yaitu jumlah energi yang tersimpan per satuan berat, umumnya berada di bawah 300 watt-jam per kilogram, sehingga menimbulkan "kecemasan akan jangkauan" (range anxiety) yang membatasi durasi penerbangan.
Baterai lithium-sulfur dianggap sebagai alternatif yang menjanjikan karena densitas energi teoretisnya yang tinggi, serta ketersediaan sulfur yang melimpah dan berbiaya rendah.