Aflatoksin dihasilkan terutama oleh kapang Aspergillus tertentu dan tidak selalu dapat diketahui hanya dengan melihat makanan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan aflatoksin sebagai salah satu mikotoksin yang paling menjadi perhatian karena paparan kronisnya dapat meningkatkan risiko kanker hati. Kapang penghasil mikotoksin juga dapat menyerang serealia, kacang, rempah, buah kering, dan sejumlah bahan pangan lainnya.
Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa kelembapan, suhu, jenis kapang, dan kondisi penyimpanan berperan dalam produksi mikotoksin.
Yang perlu kamu lakukan, buang kacang atau biji-bijian yang jelas berjamur, berubah warna, mengerut tidak wajar, atau berbau apek. Simpan stok kering dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering.
4. Nasi dan pasta yang terlalu lama berada di suhu ruang
Nasi yang tidak berbau basi belum tentu aman. Beras dapat membawa spora Bacillus cereus yang mampu bertahan selama proses memasak. Jika nasi matang dibiarkan pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri, spora dapat berkembang dan menghasilkan toksin.
Yang jadi masalah, salah satu toksin B. cereus yang menyebabkan muntah cukup tahan panas. Penelitian pada nasi matang menemukan toksin emetik masih bertahan setelah pemanasan hingga 100 derajat Celsius selama 2 jam dalam kondisi eksperimen.