PM Inggris Keir Starmer mengatakan London sedang bekerja sama dengan para sekutu dalam sebuah "rencana yang layak" guna memulihkan navigasi, tetapi menegaskan bahwa hal itu "tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai sebuah misi NATO."
Sikap hati-hati ini muncul di tengah friksi yang terlihat dengan Washington. Trump baru-baru ini mengkritik Inggris dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, mengeklaim bahwa London "tidak mau turun tangan" ketika pertama kali dimintai bantuan dan baru menawarkan kapal setelah "kapasitas bahaya" berkurang.
Di Eropa Utara dan Timur, keterbatasan sumber daya dan prioritas strategis memainkan peran besar dalam penolakan tersebut. Menlu Finlandia Elina Valtonen mengatakan bahwa Finlandia "hampir tidak memiliki sumber daya tambahan" dan bahwa selat tersebut bukanlah "prioritas utama".
Menteri Pertahanan Swedia Pal Jonson juga mengatakan bahwa fokus strategis Swedia tetap tertuju pada wilayah utara.
Menlu Polandia Radoslaw Sikorski mengonfirmasi bahwa Polandia "tidak memiliki rencana" untuk berpartisipasi, sementara Pelaksana Tugas (Plt.) Menlu Bulgaria Nadezhda Neynski mengatakan negaranya tidak memiliki kapasitas untuk misi semacam itu.
Lembaga penyiaran publik Belanda NOS melaporkan bahwa PM Belanda Rob Jetten telah mengonfirmasi bahwa Belanda saat ini tidak mempertimbangkan untuk berpartisipasi.