Imam Syafi’i hidup dalam lingkungan di mana dia memiliki dan menikmati tingkat kepercayaan demikian. Baginya, praktik yang ada di lapangan tidak begitu bisa diandalkan. Mereka bisa saja diubah secara bertahap selama beberapa generasi, yang mengarah ke perbedaan besar pada akhirnya. Namun baginya, riwayat Hadits, terutama yang terlacak dengan baik sampai ke Nabi Muhammad SAW, lebih dapat dipercaya daripada praktik di lapangan. Imam Syafi’i menempatkan ketergantungan pada hadits sebagai ciri khas dan posisinya.
Umat Islam memiliki Al-Qur`an dan meyakininya sebagai firman Tuhan. Bila ada yang berkata, “Kita hanya perlu mengandalkan Al-Qur`an. Ini adalah Firman Tuhan. Mengapa kita membutuhkan yang lainnya?” Bagi Imam Syafi’i ini keliru. Boleh jadi pendapat ini muncul karena bacaan mereka tentang ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang Kitab dan Hikmah (kebijaksanaan). Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengajarkan kepada orang-orang kitab suci dan hikmah.