Beranda Internasional Ayatollah Ali Khamenei, Dari Masyhad ke Teheran

Ayatollah Ali Khamenei, Dari Masyhad ke Teheran

Di usianya yang ke-86, kehidupan seorang ulama yang bermula dari kesederhanaan ini berakhir dengan cara yang paling kontroversial, meninggalkan bangsa yang terpolarisasi dan kawasan yang gamang.

0
Ayatollah Ali Khamenei (The Guardians)

Ia sendiri mengakui kekurangannya dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin, "Saya adalah individu yang memiliki banyak kekurangan dan benar-benar hanya seorang seminaris kecil".

Namun, konstitusi dengan cepat diamendemen, dan pangkat keagamaannya dinaikkan secara instan. Kritik skeptis mulai bermunculan, namun Khamenei perlahan membangun kekuasaannya.

Selama 37 tahun memimpin, Khamenei bertransformasi dari figur kompromi menjadi simbol utama kekuasaan mutlak.

Ia bukan sekadar pemimpin spiritual, tetapi panglima tertinggi angkatan bersenjata, termasuk Tentara Garda Revolusi Islam (IRGC), dan penentu utama kebijakan luar negeri serta nuklir.

Basis kekuatannya dibangun di atas aliansi erat dengan IRGC. Di bawah kepemimpinannya, IRGC tumbuh menjadi raksasa militer dan ekonomi, sebuah "negara dalam negara" yang menjadi penopang utama pemerintahannya.

Jaringan loyalisnya menyebar hingga ke parlemen, yudikatif, dan media, membuatnya mampu memveto kebijakan presiden mana pun, baik yang reformis seperti Mohammad Khatami maupun yang konservatif seperti Mahmoud Ahmadinejad.

Di mata dunia, ia adalah "musuh nomor satu" Amerika Serikat dan Israel. Ia membangun "Poros Perlawanan," jaringan proksi yang membentang dari Hizbullah di Lebanon hingga Hamas di Palestina, dan mengembangkan program rudal balistik yang ditakuti.

Meski sempat mengeluarkan fatwa yang mengharamkan senjata nuklir, masa kepemimpinannya diwarnai ketegangan konstan atas ambisi nuklir Iran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait