CARAPANDANG - Perlintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir kembali dibuka sebagian, memungkinkan warga Palestina kembali dan evakuasi pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak ke luar negeri. Namun, proses ini berlangsung lambat dan diiringi keluhan pelecehan serta serangan Israel yang terus berlanjut.
Sebanyak 25 warga Palestina tiba kembali di Gaza melalui Rafah pada Kamis (6/2/2026) dini hari waktu setempat, setelah menempuh perjalanan panjang lebih dari 20 jam dari El Arish, Mesir. Mereka menceritakan pemeriksaan keamanan oleh pasukan Israel yang melelahkan dan menghina.
"Perasaan saya seperti terjebak antara kebahagiaan dan kesedihan," kata salah seorang pengungsi yang kembali, Aicha Balaoui, kepada Reuters.
Di saat yang bersamaan, tujuh pasien beserta 14 anggota keluarga mereka dipindahkan dari rumah sakit menuju perlintasan Rafah untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza.
Hanya sekitar 30 pasien yang telah berhasil dievakuasi sepanjang pekan ini, jauh dari angka 50 pasien per hari yang dijanjikan dalam kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi AS.
"Jika kita mempertahankan kecepatan ini setiap hari, kita membutuhkan setidaknya tiga tahun untuk menyelesaikan evakuasi medis yang diperlukan," kata Hani Mahmoud, koresponden Al Jazeera di Gaza.
Padahal, sekitar 20.000 pasien di Gaza membutuhkan perawatan di negara lain.