CARAPANDANG - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa keputusan pemerintah memperlebar defisit anggaran hingga mendekati batas maksimal 3% merupakan langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan perekonomian dari krisis, sebagaimana pernah terjadi pada 1997-1998.
Pernyataan itu disampaikannya dalam Indonesia Fiscal Forum 2026 yang dihelat Tirto di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Purbaya mengakui keputusan tersebut bukan langkah mudah, tetapi harus ditempuh guna menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dari sisi pemerintah, belanja, dari yang lain-lain, saya memastikan semuanya itu membalikkan ekonomi. Jadi, dampaknya juga, fiskalnya juga, defisitnya melebar. Tapi itu suatu langkah yang perlu dilakukan. Mau atau nggak, (ekonomi) kita kayak 1998 lagi, pilih yang mana?" ujarnya seperti dikutip Tirto.id.
Kebijakan itu menuai kritik dari berbagai pihak yang mempertanyakan risiko defisit yang membengkak. Purbaya secara terbuka menyebut adanya kritik yang dialamatkan kepadanya.
"Orang-orang mengkritik, sebentar lagi fiskal defisitnya menggelembung. Lalu bertanya, mengapa Purbaya sebodoh itu?" lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya defisit dapat dipertahankan pada level 2%, namun itu berarti harus menghentikan sejumlah pos belanja.
Di tengah tren pelambatan ekonomi, ia memilih menerapkan kebijakan counter cyclical dengan meningkatkan belanja pemerintah melalui bantuan sosial dan insentif pajak.