CARAPANDANG - Frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto selama 1,6 tahun masa jabatannya menjadi perbincangan hangat setelah dibandingkan dengan total kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama satu dekade memimpin.
Data menunjukkan Prabowo telah melakukan 56 perjalanan ke luar negeri, sementara Jokowi tercatat 58 kunjungan dalam 10 tahun.
Perbandingan ini memicu diskursus publik mengenai efisiensi dan urgensi diplomasi internasional di era pemerintahan yang berbeda.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoroti tingginya intensitas lawatan tersebut, mencatat bahwa Prabowo menghabiskan rata-rata satu dari setiap enam harinya di luar negeri - sebuah frekuensi yang dinilai tidak lazim bagi seorang kepala negara.
Menanggapi kritik tersebut, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya angkat bicara untuk membela kebijakan perjalanan internasional Presiden. Dalam keterangan video yang dirilis Senin (1/6/2026), Teddy menegaskan bahwa setiap langkah diplomasi merupakan strategi terukur di tengah krisis global yang dinamis.
"Ini adalah kesalahan besar jika mengatakan perjalanan ini hanya untuk pamer atau tujuan seremonial. Kita harus melihat apa yang telah dicapai selama satu setengah tahun terakhir," ujar Teddy seperti dikutip dari ANTARA.