Pemerintah mengeklaim lawatan internasional selama 18 bulan terakhir berhasil membuahkan hasil nyata. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi asing mencapai Rp2.430 triliun. Kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan pada akhir Maret 2026 juga menghasilkan komitmen investasi sekitar Rp575 triliun.
Teddy memaparkan sejumlah pencapaian diplomasi yang diatribusikan kepada Prabowo, termasuk keanggotaan Indonesia di BRICS, perjanjian dagang dengan Uni Eropa yang memberikan akses ekspor bebas tarif ke 25 negara Eropa, serta penguatan kerja sama pertahanan dengan Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, dan Inggris.
Menyoal biaya perjalanan, Teddy menegaskan bahwa setiap kelebihan anggaran di luar ketentuan negara ditanggung pribadi oleh Presiden Prabowo.
Selain itu, rombongan kepresidenan juga telah dipangkas menjadi sekitar 50-60 orang, lebih kecil dibandingkan era pemerintahan sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 100 orang.
"Presiden Prabowo menjabat pada saat dunia menghadapi berbagai krisis. Para pemimpin harus membangun hubungan yang kuat satu sama lain. Kita tidak bisa menunggu sampai krisis pecah baru meminta bantuan," jelas Teddy.
Sementara itu, Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) juga meluruskan spekulasi terkait agenda lawatan terbaru Presiden ke Eropa.