Selain ASN, Dewa menilai kondisi serupa juga terjadi dalam penerapan pembelajaran daring di sektor pendidikan. Ia menyebut ekosistem digital”ini terus aktif, mulai dari notifikasi tugas, penggunaan berbagai platform belajar, hingga tuntutan respons cepat.
“Ini berpotensi menimbulkan kelelahan pada guru dan menurunkan konsentrasi siswa. Sekolah daring tanpa protokol kesehatan digital yang jelas bisa mengaburkan batas antara waktu belajar dan waktu istirahat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai kebijakan efisiensi yang disiapkan pemerintah masih berfokus pada aspek infrastruktur dan prosedur. Seperti fleksibilitas kerja, penguatan platform digital, pembatasan perjalanan dinas, efisiensi gedung, dan pembelajaran adaptif.
Padahal, kata dia, pengalaman sejumlah negara yang telah lebih dulu menerapkan kerja hibrida menunjukkan pentingnya keberadaan protokol right to disconnect. Atau pelatihan digital yang komprehensif, serta sistem pemantauan kesejahteraan pegawai.
Sejumlah riset menunjukkan intervensi digital dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, depresi, hingga kelelahan kerja. Dewa menegaskan pelayanan publik yang optimal memerlukan kondisi ASN yang sehat secara mental.
“Pelayanan publik yang baik tidak lahir dari ASN yang terhubung sepanjang hari. Melainkan dari ASN yang cukup sehat untuk berpikir jernih dan berempati,” ujarnya. dilansir rri.co.id