Hari semakin tua menuju siang, matahari sudah meninggi, aku kian mengerti. Benar saja hari itu aku lahir, melalui perjuangan panjang, berat dan melelahkan ibu. Senin, 15 Januari 2018 tepat adzan dzuhur masih di telinga adalah waktu yang penuh dengan kesuka citaan kedua orang tuaku dan juga bagi semua keluarga besar ayah dan ibu.
Sungguh! Aku tak ingin menyinggung, mau lalui saja penggalan cerita lahirku yang penuh kebingungan ini, takut mengingatnya lagi. Betapa aku ingin menangis sekeras-kerasnya, teriak sekencang-kencangnya dan protes mengapa! Dramatis, betapa kasihannya seorang ibu, betapa khawatirnya ayah di saat melihat ibu berjuang bertahan hidup lantaran harus pindah tempat bersalin dari Klinik ke rumah sakit yang cukup jauh jaraknya.
Bayangkan macetnya Jakarta, tapi kenapa dirujuk? Biar ‘pengalaman buruk’ itu menjadi rahasia sekaligus pelajaran saja. Padahal gawat, katanya Bidan kepalaku sudah hampir keluar sementara air ketuban bagaimana bisa habis di jalan? Dengar ayah komat-kamit tak menentu, berdoa sebanyak-banyaknya, …dan sungguh bersyukur kiamat terlewatkan.
Ibu hebat, sedihnya sedikit hanya mengalami baby blues syndrome meski masih terbaring di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Tuhan menyayangi kita, kami berdua selamat, di tabung inkubator badan aku terasa lemas, tapi gemuruh doa-doa masih terus terdengar, meyakinku ini penanda sang pencipta sayang dan memberi harapan hidup.