Mengapa sebuah fiksi? Dikarenakan aku pinjam tangan ayah dan ceritera ibuku untuk mengisahkan drama kelahiranku.
Pagi itu, lantunan lagu ‘Indonesia Raya’ sayup terdengar dari speaker radio tua milik ayah. Media-media elektronik setiap buka hari baru diwajibkan pemutaran lagu kebangsaan? Hukum monster, entahlah! Yang pasti bagi ayah, di tiap syairnya terasa mensugesti ringankan beban psikologis kota. Pertanda sepoi pagi mulai meninggalkan kebisuan malam, menambah hangatkan cuaca musim penghujan. Sehingga melampaui batas kekurangan suasana kontrakan kecil kami.
Usai kokok ayam subuh, tampaknya pagi itu tak ada warga yang bercengkrama gosip semesta membuat suasana riuh-ramai satu RT. Tidak ada yang aneh sih, terkadang begitu asyiknya Jakarta, selain tak pernah luput dari kesibukan ‘masing-masing’. Berbeda dengan di Desa ayah dan ibuku tumbuh besar.
Sembari ‘ngeteh’, (ayah memang sudah lama minggalkan rokok, sejak ibu mengandung) ayah duduk merebahkan badan, santai di atas karpet tipis ukuran kecil satu-satu miliknya.
Pagi ini ayah terlihat berlaku datar saja, terlalu teater sastrawi menurutku. Tapi apa ayah sedang gelisah memikirkan tentang kedegilan dunia politik? (seperti hari-hari biasanya). Atau tak tenang dan tidak sabar lantaran menyambut hadirnya aku di kefanaan dunia ini?