Dari sinilah mulai terlihat datangnya jalan keluar dan akhir dari rasa sakit berkat kesabaran yang baik, harapan yang besar, dan asa yang tiada ujung. “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku.” (QS. Yusuf: 83). Kesabaran yang tidak diselingi keluh kesah, harapan yang tidak ada habisnya, dan asa yang tidak ada putusnya.
Nabi Ya’qub lalu pergi dari mereka dan tersingkap lagi luka lama yang belum sempat mengering. Beliau berkata: “Alangkah kasihan Yusuf” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan). (QS. Yusuf: 84).
Kesedihan yang sudah menjadi tabiat jiwa manusia. Kesedihan yang tidak menafikan kesabaran, tidak diiringi dengan penolakan dan kemurkaan atas takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan bagaimana mungkin seorang Nabi Ya’qub, orang yang terluka dan tabah akan melupakan Yusuf? Bagaimana mungkin akan melupakan Yusuf, sedangkan ia telah memenuhi pandangan dan pendengarannya dengan kecintaan kepadanya? Bagaimana mungkin seorang ayah akan melupakan buah hati dan penyejuk matanya? Bagaimana mungkin itu terjadi terhadap Ya’qub, yang selalu khawatir terhadap Yusuf meski dengan hembusan hawa dingin yang menerpanya?