Beranda Internasional Militer AS Dihantam Krisis Besar

Militer AS Dihantam Krisis Besar

Trump saat itu menyebut Hegseth sebagai sosok yang suka perang. Komentar tersebut disampaikan sambil tersenyum dan menepuk lengan Hegseth

0
Hegseth

Namun, komentar Trump itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Hegseth terlihat memiliki cara pandang yang berbeda dari banyak pemimpin militer AS sebelumnya.

Jika para pemimpin militer masa lalu memandang kekerasan sebagai kebutuhan tragis, Hegseth justru kerap menggambarkannya sebagai sesuatu yang benar, tegas, bahkan menggairahkan.

Kata favorit Hegseth adalah lethality atau kemampuan mematikan. Saat berpidato di hadapan kadet West Point pada 23 Mei lalu, dia menggunakan kata itu sebanyak lima kali. Itu belum termasuk dua kali penggunaan kata lethal.

Sebaliknya, kata peace atau perdamaian hanya muncul satu kali dalam pidatonya.

Hegseth mengatakan kepada para kadet bahwa mereka perlu merasa nyaman berada di dalam kekerasan, agar warga negara AS bisa hidup damai. Dia juga menyebut lethality sebagai kartu identitas mereka.

Siap Bertempur Memang Penting, Tapi Tidak Cukup

Inti pesan Hegseth sebenarnya bukan hal baru bagi dunia militer. Tentara memang harus siap bertempur dan menang.

Dari pengalamannya bertahun-tahun di National Guard, Hegseth juga memiliki ketakutan besar terhadap kondisi pasukan yang tidak siap atau kekurangan perlengkapan.

Dalam bukunya "The War on Warriors" yang terbit pada 2024, Hegseth dua kali menceritakan mimpi buruk berulang tentang dirinya yang berada dalam sebuah misi, tetapi tidak siap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait