Beranda Kolom Memoar Warisan Yang Kupikul

Memoar Warisan Yang Kupikul

0
Memoar Warisan Yang Kupiku

Bunga tumbuh setelah badai, dapatkah aku menemukan cahaya? Belajar menjadi bijaksana mencari ruang untuk sembuh. Belajar menjadi tiada, tak mau menjadi siapa-siapa, dan apa-apa. Makhluk kecil menghilang dalam ketiadaan, memahat kembali apa yang di ajarkan ibu, dan apa yang dituntunkan ayah.

Kembali seusai sembuh, aku minggir dulu dari semesta yang menyakitiku. Terlalu besar beban, aku mau belajar dari kesunyian yang mengajarkan manusia terpuji. Memahami makna tiada, tanpa mengais kedermawanan cinta dari jiwa-jiwa egois.

Daun-daun berguguran, dunia hanya setetes kesenangan yang menipu. Hmm.. aku rasa hidup di semesta yang fana ini seperti melukis. Terkadang perlu warna gelap buat cahaya agar punya makna.

Meredam mendendam yang membuatku menangis dan agar hati tidak terus larut sedih. Tuhan jauhkanlah aku pada keriuhan, aku berhenti mencari rumah dalam fantasi.

Dan, biar saja ada yang mencibir, mengatai karena tak memahami mengapa. Karena hampa, kosong adalah saat mencoba jujur tentang lelah. Terima kasih ibu, terima kasih ayah istirahatlah kata-kata.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait