Beranda Kolom Memoar Warisan Yang Kupikul

Memoar Warisan Yang Kupikul

0
Memoar Warisan Yang Kupiku

CARAPANDANG - Hari-hari berganti begitu cepat, tak sepanjang cerita legenda roda kehidupan berputar singkat, usai waktu tergilas keriuhan dunia yang tak terbatas. Malam terasa sangat panjang dipenuhi air mata, aku menangis sejadi-jadinya.

Tidak terasa, rasanya perih masih baru, tahunan berlalu ayah tutup usia, lalu ibu susul pergi tanpa tanda pamit. Tuhan, izinkan aku tanya, memanggil keduanya kenapa terlalu cepat, dan terburu-buru membuat semestaku luruh diburu sesal.

Mengejutkan tak terbayangkan terlalu cepat beranjak. Semula teguh kini aku patah arah, harapan retak, ku kehilangan manusia mulia yang jujur dan tulus beri petunjuk jalan. Hatinya begitu luas, dan lembut seperti cahaya dalam kabut.

Akhir adalah pergi. Sepanjang itu cerita cinta kasih yang keindahannya taburi tiap kelopak bunga, tamat terputus menjadi warisan amal. Tiada makna apa lagi, hanya sekisah memoar untuk tak tertinggalkan beban.

Yang membuatku patah arah, pergi tanpa tanda pamit. Semula aku teguh melanglang buana, kini rasanya retak diburu sesal. Dunia berat dipikul, begitu banyak bangun rencana, dan mimpi. Salahnyaku ketimbang pulang mendekap, membiarkannya kesepian di sisa masa.

Padahal aku tak punya ambisi ingin menggulung langit, tapi alasan memilih jauh berjarak, hanya hantu di kepala ingin sedikit saja berkualitas. Jalani proses asah diri bukan ingin menjejerkan gelar kesarjanaan yang mentereng biar seolah terlihat bermartabat dewa.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait