Ketika Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya, gunung yang kokoh itu hancur berkeping-keping. Kejadian ini membuat Nabi Musa sadar akan keagungan Tuhan yang tak terbayangkan. Ia pun bersujud dan meminta ampun, menyadari bahwa permintaan itu terlalu besar bagi makhluk yang fana. Kisah ini menegaskan bahwa mata fisik kita tidak sanggup melihat kebesaran Tuhan.
Lalu, bagaimana dengan di dunia? Di kehidupan ini, kita dapat melihat Tuhan dengan mata batin. Seperti saat kita memahami suatu ide, kita merasakan kehadiran-Nya melalui hati dan pikiran. Mata kita yang terbatas tidak bisa melihat segalanya, seperti kita tidak bisa melihat lubang hitam, tetapi kita yakin mereka ada karena efeknya.
Sama halnya dengan Tuhan. Kita tahu Dia ada karena efek-efek-Nya yang luar biasa dalam kehidupan kita dan alam semesta. Jika kita memupuk iman, menjalankan perintah-Nya, dan berusaha menyenangkan-Nya di dunia, kita dijanjikan akan melihat-Nya di akhirat. Al-Qur'an (Surah Al-Qiyamah ayat 22-23) menguatkan janji ini; Pada hari itu, wajah-wajah akan berseri-seri, menatap langsung kepada Tuhan mereka. Ini adalah tujuan tertinggi kita, dan iman adalah jalan untuk mencapainya.