Prinsip sederhananya adalah melihat kemampuan senyawa dalam sampel untuk menangkap radikal bebas DPPH. Semakin besar kemampuan suatu ekstrak meredam radikal tersebut, semakin tinggi aktivitas antioksidan yang ditunjukkan dalam pengujian.
Dalam penelitian Wilang, hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari kulit batang Phellodendron amurense memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan ekstrak lainnya.
Ia juga menemukan sejumlah metabolit sekunder pada bagian daun dan kulit batang tanaman tersebut. Tetapi, temuan itu tidak otomatis berarti tanaman tersebut bisa menjadi sumber antioksidan yang efektif.
Hasil penelitian Wilang justru menunjukkan potensi antioksidannya masih relatif rendah jika dibandingkan dengan vitamin C maupun sejumlah tumbuhan lain yang sudah diketahui memiliki aktivitas antioksidan.
“Ditemukan beberapa senyawa metabolit sekunder yang mengandung potensi sebagai antioksidan. Tetapi, tumbuhan ini belum efektif digunakan sebagai sumber senyawa antioksidan,” jelasnya.
Temuan tersebut menjadi salah satu hal penting dari penelitian Wilang. Sebab, penelitian tentang tanaman tidak selalu berakhir pada kesimpulan bahwa suatu tanaman memiliki khasiat tinggi.
Hasil yang menunjukkan potensi masih rendah juga tetap menjadi informasi ilmiah. Penelitian membantu menunjukkan batas kemampuan suatu bahan berdasarkan metode pengujian yang digunakan.
Penelitian Selesai di Jepang, Ditulis Setelah Pulang ke Indonesia