Pengalaman tersebut bukan sekadar perjalanan akademik ke luar negeri. Di Jepang, Wilang sekaligus mengerjakan penelitian yang kemudian menjadi bagian penting dari skripsinya.
Ia bergabung dengan Laboratory of Forest Products dan meneliti Phellodendron amurense Rupr. Tanaman tersebut dikenal dengan nama Amur cork tree.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Jepang, bagian kulit batang tanaman ini telah digunakan sebagai bahan pengobatan. Kulit batangnya dikenal dengan nama Cortex Phellodendri.
Dari tanaman itulah Wilang mengembangkan penelitian skripsinya. Judulnya, “Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr.”
Dalam penelitian tersebut, Wilang juga membandingkan aktivitas antioksidan dari ekstrak bagian kulit batang dan daun.
Untuk mengetahuinya, ia menggunakan dua pendekatan utama, yakni Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan metode DPPH.
GC-MS merupakan metode analisis yang digunakan untuk memisahkan sekaligus mengidentifikasi berbagai senyawa dalam suatu sampel.
GC atau Gas Chromatography bekerja dengan memisahkan komponen-komponen senyawa berdasarkan karakteristiknya. Setelah terpisah, komponen tersebut dianalisis menggunakan MS atau Mass Spectrometry untuk membantu mengetahui identitas senyawanya.
Sementara itu, DPPH merupakan salah satu metode yang lazim digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan suatu bahan.