CARAPANDANG - Sepanjang sejarah umat manusia, kita sering membaca kisah manusia berlomba-lomba mengejar jabatan. Jabatan Sering dianggap sebagai simbol kehormatan, sumber kekayaan, hingga jalan pintas menuju pengaruh sosial. Padahal, dalam Islam, jabatan bukanlah sekadar kedudukan yang membawa gengsi, melainkan sebuah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Rasulullah Saw, teladan agung umat Islam, memberikan pengajaran yang sangat berharga tentang kepemimpinan. Salah satu kisah yang penting dicermati adalah penolakan beliau terhadap permintaan jabatan yang diajukan oleh Abu Dzar al-Ghifari, salah seorang sahabat yang terkenal karena sifat zuhud dan kejujurannya.
Kisah Abu Dzar bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga cermin yang selalu relevan untuk menilai ulang bagaimana kita memandang jabatan dan kepemimpinan di sepanjang sejarah umat manusia.
Kisah Abu Dzar al-Ghifari Meminta Jabatan
Imam Muslim dalam kitab Sahihnya meriwayatkan sebuah hadis:
Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pegawai (memberi jabatan)?” Lalu beliau menepuk pundakku seraya bersabda:
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan kepemimpinan adalah sebuah amanah. Dan kepemimpinan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil haknya dan menunaikan kewajiban yang ada padanya.”