Diagnosis yang diterima keluarganya terdengar begitu menyakitkan. Peluang Saibari untuk berjalan normal disebut sangat kecil. Bahkan, beberapa tenaga medis memperingatkan bahwa ia mungkin akan menjalani hidup dengan keterbatasan fisik permanen.
Bagi orang tuanya, kabar itu menjadi pukulan berat. Namun mereka memilih satu sikap yang kemudian menjadi fondasi perjalanan sang anak, tidak menyerah.
Masa kecil Saibari dihabiskan bukan dengan bermain bebas di taman, melainkan berpindah dari satu ruang terapi ke ruang terapi lainnya. Ia harus mengenakan penyangga logam, sepatu khusus, hingga menjalani berbagai latihan untuk memperbaiki posisi kedua kakinya. Rasa sakit menjadi bagian dari rutinitas yang harus diterima sejak usia dini.
Di usia ketika anak-anak lain mulai mengejar bola, impian terbesar Saibari justru jauh lebih sederhana. Ia hanya ingin bisa berjalan tanpa rasa sakit.
Perlahan, usaha panjang itu mulai menunjukkan hasil. Langkah demi langkah menjadi lebih stabil. Bagi keluarganya, setiap kemajuan sekecil apa pun merupakan kemenangan yang layak disyukuri.
Sang ibu terus meyakini bahwa kerja keras harus berjalan beriringan dengan doa. Keyakinan itulah yang kelak menjadi sumber kekuatan ketika tantangan baru kembali datang.
Ditolak, Diremehkan, tetapi Tidak Pernah Berhenti Bermimpi
Setelah kondisi fisiknya membaik, keluarga Saibari pindah ke Belgia. Di negara inilah bakat sepak bolanya mulai berkembang.