CARAPANDANG - Tidak semua pesepak bola memulai perjalanan dari lapangan hijau. Sebagian harus lebih dulu bertarung melawan rasa sakit, keraguan, bahkan vonis medis yang seolah menutup masa depan mereka.
Itulah kisah Ismael Saibari, gelandang kreatif Maroko yang menjadi salah satu sosok paling emosional di Piala Dunia 2026.
Ketika Maroko memastikan kemenangan dramatis atas Belanda melalui adu penalti, sorotan publik bukan hanya tertuju pada gol penentu yang dicetak Saibari.
Sesaat setelah bola bersarang di gawang, ia berlari menuju tribun penonton dan memeluk ibunya dengan air mata yang sulit dibendung.
Pelukan itu bukan sekadar selebrasi kemenangan, melainkan simbol perjalanan panjang seorang anak yang pernah diprediksi tidak akan mampu berjalan normal.
Di balik satu tendangan penalti itu tersimpan kisah tentang keluarga, pengorbanan, dan keyakinan yang akhirnya mengalahkan segala keterbatasan.
Ketika Mimpi Seorang Anak Hanyalah Bisa Berjalan
Ismael Saibari lahir pada 2001 di Terrassa, Spanyol, dari keluarga keturunan Maroko. Sejak hari-hari pertamanya di dunia, hidupnya sudah dipenuhi tantangan yang tidak dialami kebanyakan anak.
Dokter menemukan adanya kelainan bawaan pada kedua kakinya sehingga posisi telapak kakinya melengkung ke dalam secara ekstrem.