Manfaat tertawa juga tidak berhenti pada kesehatan mental dan perkembangan otak saja. Dalam lingkungan keluarga, berbagi tawa bersama dapat meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang berperan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Selain itu, aktivitas tertawa bersama juga membantu proses yang dikenal sebagai co-regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi secara bersama-sama melalui interaksi sosial yang positif.
Proses ini membantu seseorang mengatasi stres dengan memanfaatkan pengalaman menyenangkan dan rasa aman yang tercipta dari hubungan yang hangat dengan orang lain.
Harding menambahkan bahwa permainan yang kreatif dan menyenangkan bekerja sangat efektif bagi perkembangan otak, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi yang paling siap untuk belajar.
“Permainan spontan yang penuh kegembiraan merupakan penawar stres karena meningkatkan kadar endorfin yang dilepaskan oleh otak,” kata Harding.
Jadi, lain kali saat mendengar lelucon bapak-bapak yang terdengar receh atau garing, jangan langsung mengernyitkan dahi. Bisa jadi, tawa yang muncul setelahnya justru sedang memberi manfaat bagi kesehatan otak dan membantu mengurangi stres.