"Kamu sebagai santri. Kamu juga mengabdi di NU sekarang. Harus ikhtiar menjadi pemimpin di Muktamar yang akan datang," ujarnya mengulangi ucapan ulama yang akrab disapa Kiai Da itu.
Gus Salam menuturkan, Kiai Da memberikan dua tugas penting kepadanya, pertama harus membuat PBNU menjadi lebih rukun, kompak dan bersatu, serta mampu melakukan rekonsiliasi secara menyeluruh.
Kedua, bagaimana membuat tata kelola NU harus benar-benar menjaga nilai-nilai pesantren. Karena ini warna-warna yang paling terlihat di dalam organisasi yang diisi para ulama tersebut.
"Dua pesan utama itu yang beliau sampaikan kepada kami. Dan itu tidak hanya sekali," katanya.
Setelah mendapatkan perintah tersebut, lanjut Gus Salam, kemudian dirinya merenungi apakah pantas berikhtiar menjadi pemimpin di PBNU. Bahkan, sempat meragukan perintah tersebut karena merasa diri belum layak.
"Saya sendiri mengatakan saya tidak pantas, maka saya kemudian meminta kepastian lagi kepada pendamping beliau (Kiai Da). Apakah benar ini meminta saya untuk ikhtiar di muktamar ini. Apakah tidak salah? Dan ternyata memang itu dari beliau," katanya.
Oleh sebab itu, sebagai seorang santri yang memang diajarkan dan dididik untuk untuk menjadi orang-orang yang taat kepada guru, ia bertekad melaksanakan tugas tersebut semaksimal mungkin.