"Ketika ketidakpastian meningkat, investor menuntut kompensasi yang lebih besar untuk risiko," kata Farag kepada Xinhua.
Menurut Farag, dampaknya kemungkinan tidak akan merata di seluruh industri. Sektor pertahanan, kedirgantaraan, dan energi mungkin akan mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan dan pengeluaran pemerintah, sementara industri yang sangat bergantung pada stabilitas regional, termasuk pariwisata, logistik, dan real estat, dapat menghadapi tantangan yang lebih besar.
Krisis ini juga berpotensi memengaruhi pasar global melalui perilaku investasi dana kekayaan negara di Timur Tengah.
Menurut Farag, dana kekayaan negara Teluk secara kolektif mengelola aset senilai triliunan dolar AS dan memiliki investasi yang luas di seluruh dunia, termasuk sekitar 2 triliun dolar AS yang diinvestasikan di AS saja.
Jika ketegangan geopolitik berlanjut, dana-dana ini mungkin akan mengevaluasi kembali strategi investasi global mereka untuk memperkuat ketahanan portofolio.
Farag juga berpendapat pergeseran alokasi modal global dapat menciptakan peluang bagi beberapa emerging economy utama.
Menurutnya, negara-negara dengan pasar domestik yang besar dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat, termasuk China, Brasil, dan beberapa negara kaya sumber daya, berpotensi menarik lebih banyak investasi jangka panjang jika investor global mencari diversifikasi di luar pasar Barat tradisional.