CARAPANDANG - Mi instan sudah lama menjadi makanan favorit lintas generasi karena rasanya yang gurih, harganya yang murah, dan penyajiannya yang super praktis. Namun, di balik kelezatan yang instan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diremehkan jika dikonsumsi secara ugal-ugalan.
Seorang dokter ortopedi asal Mumbai, Dr. Manan Vora, memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten di balik konsumsi mi instan yang berlebihan. Lewat unggahan edukasi di akun Instagram pribadinya, dr. Vora menegaskan bahwa mengonsumsi mi instan sekali-sekali sebenarnya tidak akan langsung merusak tubuh. Namun, ceritanya akan berbeda jika makanan ultra-proses ini dijadikan sebagai menu harian.
"Mi instan itu bukan instant comfort (kenyamanan instan), melainkan instant damage (kerusakan instan)," tegas dr. Vora.
Ia menilai, risiko kesehatan masyarakat saat ini justru kian meroket. Hal ini dipicu oleh tren kuliner di kalangan Gen Z yang sangat menggandrungi produk mi instan dengan tingkat kepedasan ekstrem, salah satunya seperti Buldak ramen.
Tiga "Rambu Merah" di Balik Gurihnya Mi Instan
Lebih lanjut, dr. Vora membeberkan setidaknya ada tiga unsur berbahaya atau "tanda merah" yang hampir selalu ditemukan di dalam setiap produk mi instan kemasan:
Kandungan TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone): Ini merupakan bahan pengawet sintetis yang digunakan agar mi tahan lama di rak toko. Zat ini diketahui dapat memicu stres oksidatif pada sel-sel tubuh.