CARAPANDANG.COM - IMAM Syafii dalam kitab “Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i” (1431: 63) pernah menyenandungkan syair yang berjudul “As-Sukûtu Salamatun” (Diam adalah keselamatan).
Kandungan dari bait-bait syair Imam Syafii berikut ini sangat menarik untuk dijadikan refleksi di tengah era digital yang penuh dengan fitnah dan hasutan.
Beliau melantunkan bait-bait syairnya:
Mereka berkata, “Kamu diam saja padahal dimusuhi,” lantas aku menjawab,
“Sungguh, malah membuka pintu kejahatan jika aku turut menjawab
Bersikap diam terhadap orang bodoh atau pandir adalah kemuliaan
Disamping itu juga bisa menjaga dan memperbaiki kehormatan
Tidakkah engkau melihat singa ditakuti padahal dia diam (tak banyak omong)?
Sedangkan anjing dihinakan, karena dia menggonggong.”
Dari bait sya`ir yang indah ini, bisa diambil pelajaran. Pertama, tidak usah meladeni permusuhan seseorang jahil dengan jawaban yang malah akan menimbulkan keburukan yang lebih besar.
Kedua, diam atau tidak meladeni orang yang bodoh adalah kemuliaan. Ketiga, tidak merespon orang pandir juga bisa menjaga kehormatan diri. Maka, dalam situasi demikian, sebaik-baik sikap adalah diam.
Bukankah ada ayat al-Qur`an yang menyarankan wa a’ridh ‘anil jâhilîn [dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil] (QS. Al-A’raf [7]: 199).