Beranda Umum BRIN: Perlu Upaya Lebih Jauh Cegah Risiko RI jadi Hotspot Virus Nipah

BRIN: Perlu Upaya Lebih Jauh Cegah Risiko RI jadi Hotspot Virus Nipah

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan perlu pengembangan upaya pencegahan dan penanggulangan virus Nipah lebih jauh, sebab Indonesia berisiko menjadi hotspot virus tersebut, karena keanekaragaman hayati yang besar, terutama jenis kelelawar buah yang banyak.

0
istimewa

Menurutnya, berbagai temuan ini menunjukkan bahwa keberagaman genetik virus Nipah mempengaruhi virulensi, transmisi, serta respon imun. Hal ini juga menyoroti pentingnya pengembangan vaksin, diagnostik, dan terapi berbasis strain.

Dia menyebutkan per 2024 kasus virus Nipah yang dilaporkan secara global ada 754, dengan kematian sekitar 435 kasus, sehingga rata-rata rasio fatalitas yakni 58 persen.

Indi menjelaskan,reservoir utama virus tersebut yakni kelelawar buah, dengan babi sebagai inang perantara. Babi, katanya, menjadi salah satu penyebab utama dalam wabah Nipah di Malaysia.

Sejumlah hewan domestik lain yang dapat terpapar, katanya, yakni anjing, dan di Bangladesh dilaporkan sapi dan kambing juga terdampak.

Dia menambahkan penularan terjadi dari kontaminasi makanan atau lingkungan oleh urine atau saliva kelelawar. Pada 1998 di Malaysia penyebaran virus terjadi dari buah yang dimakan babi, kemudian terjadi transmisi ke manusia.

Sementara itu di India dan Bangladesh, penyebaran terjadi dari nira kurma, dimana buah tergigit dan terjadi kontak dengan hewan ternak. Kemudian, katanya, terjadi penularan antar-manusia setelah infeksi.

"Nah beberapa hal yang menjadi pendorong mungkin adanya deforestasi, kemudian juga perubahan iklim, ekspansi pertanian dan juga beberapa diantaranya mungkin peningkatan kontak erat antara kelelawar dan manusia," katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait