"Saat agresor Amerika-Israel memiliki teknologi paling canggih dan sistem militer serta data berpresisi tinggi, tidak ada seorang pun yang percaya bahwa serangan terhadap sekolah itu adalah sesuatu selain tindakan yang disengaja dan terencana," ujarnya.
Araghchi menambahkan bahwa tragedi Minab hanyalah "puncak gunung es" dari pelanggaran sistematis yang terjadi. Secara keseluruhan, lebih dari 600 sekolah telah hancur atau rusak di seluruh Iran, dengan total korban tewas akibat serangan AS-Israel mencapai 1.300 orang.
Menteri luar negeri Iran itu juga menyoroti bahwa serangan dilancarkan saat Iran dan AS masih berada di meja perundingan untuk menyelesaikan isu program nuklir Iran.
"Mereka mengabaikan meja perundingan untuk kedua kalinya dalam sembilan bulan dan memilih untuk memulai perang ilegal melalui dua rezim nuklir yang bersifat pembuli," kata Araghchi.
Pemerintah Iran menyebut total korban tewas akibat serangan AS-Israel sejak 28 Februari mencapai 1.300 jiwa. Selain infrastruktur pendidikan, rumah sakit, ambulans, petugas kesehatan, penyelamat Bulan Sabit Merah, kilang minyak, sumber air, dan kawasan pemukiman juga menjadi sasaran serangan.
Serangan gabungan AS dan Israel dilancarkan pada 28 Februari dengan klaim awal untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran. Namun, Iran menyatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah pergantian kekuasaan di negara tersebut.