Kemampuan kepemimpinan dan manajerial memang penting untuk mewujudkan visi. Namun akhlak yang mencakup integritas dan moralitasadalah fondasi keteladanan. Tanpa teladan, sehebat apa pun seorang pemimpin, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Akhlak pula yang membangun kepercayaan antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin yang jujur akan dipercaya, yang adil akan dihormati, dan yang sabar akan diikuti. Sejarah mencatat Khalifah Umar bin Khattab r.a. sebagai simbol keadilan. Ia bahkan tidak segan turun langsung memastikan keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Suatu ketika, seorang Yahudi mengadu kepada Umar karena rumahnya digusur oleh Gubernur Mesir, Amr bin al-‘Ash, demi perluasan masjid. Meski telah diberi ganti rugi, ia tetap merasa dizalimi. Setelah mendengar pengaduan itu, Umar menorehkan dua garis—horizontal dan vertikal—pada sepotong tulang, lalu memintanya menyerahkan kepada sang gubernur.
Melihat tanda itu, Amr pucat dan segera mengembalikan rumah tersebut. Ia memahami pesan Umar: tetaplah lurus seperti garis vertikal, atau lehermu akan ditebas seperti garis horizontal. Kisah ini menggambarkan betapa teguhnya komitmen Umar terhadap keadilan.
Umar juga dikenal penuh kasih. Ia kerap berpatroli malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Pernah ia menemukan seorang ibu memasak batu demi menenangkan anak-anaknya. Tanpa ragu, Umar memikul sendiri karung gandum dari baitul mal dan mengantarkannya ke rumah wanita itu.