Dampak dari ancaman itu langsung terasa. Perusahaan asuransi maritim ramai-ramai membatalkan pertanggungan risiko perang (war risk coverage) untuk kapal-kapal di wilayah tersebut.
Data dari Lloyds List Intelligence menunjukkan sekitar 200 kapal tanker minyak dan produk minyak kini terdampar di Teluk, tidak berani melanjutkan perjalanan. Akibatnya, harga minyak mentah global melonjak, dengan Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Para analis menyambut langkah Trump dengan beragam pandangan. Dan Pickering, Chief Investment Officer Pickering Energy Partners, menilai tawaran asuransi pemerintah dapat membuat perbedaan besar karena menghilangkan risiko finansial bagi pemilik kapal.
Namun, Richard Meade, pemimpin redaksi jurnal pelayaran Lloyds List, meragukan efektivitasnya. Ia mengingatkan bahwa pengawalan militas sekalipun tidak menjamin keamanan mutlak, merujuk pada serangan Houthi di Laut Merah yang tetap terjadi meski ada intervensi militer AS.
Situasi di lapangan masih tegang. Media melaporkan sebuah kapal tanker berbendera Honduras, Athena Nova, terbakar di Selat Hormuz setelah diduga terkena serangan dua drone.
Sementara itu, beberapa negara seperti Yunani dan Inggris justru mengimbau kapal-kapal berbendera mereka untuk menghindari selat tersebut hingga situasi keamanan membaik.