“Pemda Pohuwato, baik Pak Bupati maupun Pak Wakil Bupati, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemendikdasmen atas kegiatan ini. Mohon maaf, pimpinan kami saat ini belum bisa bersama-sama karena ada kegiatan yang tidak kalah penting yang harus diikuti,”ujar Iskandar.
Ia menjelaskan, kondisi dan potensi wilayah di Pohuwato juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan lokasi tempat tinggal, khususnya desa-desa pesisir, serta wilayah yang memiliki potensi berupa pertambangan, perikanan, pertanian dan lainnya.
Selain itu, tekanan ekonomi keluarga juga dinilai dapat mendorong anak-anak usia sekolah untuk bekerja atau mengikuti orang tua dalam mencari penghasilan. Tidak sedikit pula anak yang memilih bekerja karena tertarik mendapatkan penghasilan sendiri, meskipun seharusnya masih berada di bangku pendidikan.
“Olehnya, melalui FGD ini kita berharap dapat memetakan daerah-daerah mana yang memiliki jumlah anak putus sekolah dan anak tidak sekolah paling banyak. Dengan begitu, treatment atau penanganan yang akan kita lakukan dapat dirumuskan dengan baik,”jelasnya.
Menurut Iskandar, penanganan ATS membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga perangkat daerah terkait. Sinergi tersebut penting agar program pemerintah pusat dalam mencegah bertambahnya jumlah anak tidak sekolah dapat berjalan secara efektif di Kabupaten Pohuwato.