Pihak Angkatan Udara Ukraina mengklaim berhasil mencegat 549 drone dan 55 rudal, sementara sekitar 19 rudal lainnya dilaporkan gagal mencapai sasaran.
Namun, pihaknya mengakui tidak semua rudal balistik dapat dihentikan, dengan jumlah hantaman terbanyak terjadi di Kyiv.
Warga Kyiv menggambarkan malam itu sebagai salah satu yang paling mengerikan.
"Itu malam yang mengerikan, belum pernah ada yang seperti ini sepanjang perang," ujar Svitlana Onofryichuk, seorang warga Kyiv.
Warga lain, Yevhen Zosin, mengaku apartemennya hancur akibat ledakan bertubi-tubi.
Penggunaan rudal Oreshnik—rudal balistik jarak menengah (IRBM) yang mampu mencapai target hingga jarak 5.600 kilometer—memicu kecaman keras dari komunitas internasional.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menuduh Rusia melakukan permainan ambang nuklir yang "sembrono" dan taktik menakut-nakuti secara politik.
"Teror terhadap warga sipil bukanlah kekuatan. Itu adalah keputusasaan," tulis Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di platform X.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut eskalasi ini "sembrono", dan Prancis menilai serangan tersebut menunjukkan jalan buntu dari perang agresi Rusia.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.