CARAPANDANG - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, di tengah eskalasi konflik yang berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.
Dalam unggahan di media sosial X pada Selasa (24/3/2026), Macron menyatakan bahwa pembicaraan tersebut membahas upaya de-eskalasi dan pentingnya menghentikan serangan di kawasan.
"Saya kembali berbicara tentang perlunya menghentikan serangan yang tidak dapat diterima ini terhadap negara-negara di kawasan tersebut, untuk menjaga infrastruktur energi dan sipil, dan untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz," tulis Macron dalam unggahannya.
Macron mengajak Iran untuk terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik guna membuka jalan menuju de-eskalasi. Ia juga menekankan bahwa upaya diplomatik harus menyediakan kerangka kerja yang mampu menjawab harapan komunitas internasional terkait program nuklir dan balistik Iran, serta aktivitas destabilisasi regionalnya.
"Yang sangat diperlukan adalah menghentikan serangan yang tidak dapat diterima terhadap negara-negara di kawasan. Populasi sipil dan kebutuhan dasar mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer," tegas Macron.
Menanggapi ajakan tersebut, Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa akar ketidakamanan dan ketidakstabilan di kawasan terletak pada tindakan permusuhan Amerika Serikat dan rezim Zionis (Israel).