CARAPANDANG - Presiden RI Prabowo Subianto membenarkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) produksi China. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara khusus dengan Bloomberg belum lama ini.
Presiden menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pertahanan jangka panjang untuk menjaga postur militer yang bersifat defensif.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki hak untuk membeli perlengkapan pertahanan dari negara mana pun selama tidak bertentangan dengan konstitusi dan kebijakan luar negeri bebas aktif yang dianut negara.
"Indonesia tidak bisa menjadi bagian dari aliansi militer mana pun. Ketika sesuatu terjadi, kita tidak bisa bergantung pada siapa pun," tegas Presiden Prabowo dalam wawancara tersebut.
Presiden juga mengecilkan kekhawatiran sejumlah pihak bahwa China akan memanfaatkan meningkatnya ketegangan global, terutama konflik di Timur Tengah, untuk mengambil tindakan terhadap Taiwan.
Menurutnya, para pemimpin China saat ini lebih fokus pada pembangunan dalam negeri dan peningkatan taraf hidup warganya sehingga akan berusaha menghindari konflik terbuka.
Pernyataan ini muncul di tengah rencana pengadaan alutsista strategis yang telah dianggarkan pemerintah. Kementerian Keuangan sebelumnya telah menyetujui alokasi pembiayaan pertahanan sebesar Rp 160 triliun untuk tahun 2026.