Ia mengungkapkan, potensi ekonomi dari program gentengisasi cukup besar. Pada tahun 2026, pelaksanaan BSPS di Jawa Barat mencapai 40.000 unit rumah, dengan kebutuhan sekitar 300 genteng per unit. “Jika kita dorong menggunakan genteng lokal dengan harga sekitar Rp2.300 per pcs, maka potensi perputaran ekonomi bisa mencapai sekitar Rp27,6 miliar untuk UMKM genteng lokal,” paparnya.
Selain itu, kebutuhan genteng juga berasal dari program rumah subsidi. Pada 2025, tercatat sebanyak 62.591 unit rumah subsidi di Jawa Barat dengan kebutuhan sekitar 730 genteng per unit, yang pada tahun ini didorong untuk menggunakan produk lokal.
“Kita doakan UMKM genteng lokal bisa naik kelas melalui program gentengnisasi ini, karena skalanya besar dan berkelanjutan,” tambahnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi atas langkah Kementerian PKP dalam mendorong penggunaan produk lokal yang dinilai mampu meningkatkan ekonomi daerah.
“Kami mengapresiasi Menteri PKP atas program gentengnisasi ini. Penggunaan produk genteng dari UMKM lokal Jawa Barat akan sangat membantu meningkatkan ekonomi daerah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan dukungan pemerintah daerah dalam mempermudah perizinan produksi serta meningkatkan kesejahteraan para pekerja di sektor tersebut.
Sementara itu, dukungan sektor swasta ditunjukkan oleh James Riady melalui pemesanan 44.000 genteng untuk kebutuhan perumahan Hunian Warisan Bangsa dari Lippo Group.