Beranda Internasional Perang AS vs Iran Dimanfaatkan Israel untuk Kuasai Masjid Al-Aqsha

Perang AS vs Iran Dimanfaatkan Israel untuk Kuasai Masjid Al-Aqsha

Israel memanfaatkan gelar perang bersama AS menyerang Iran, yang menyita perhatian umat dan publik dunia, sebagai momentum untuk semakin memudahkan agendanya dalam penguasaan atas Masjid Al-Aqsha.

0
ilustrasi/istimewa

Tetapi Masjid Al-Aqsha dan area sekitarnya yang setiap Idulfitri biasanya juga penuh dengan gemuruh takbir dari ratusan ribu jemaah, pada hari raya Idulfitri besok akan sepi. Tidak ada kemeriahan dan syiar salat Idulfitri di sana. 

Itu semua karena Zionis Israel terus menutup Masjid Al-Aqsha dengan mengabaikan tuntutan dan penolakan keras dari masyarakat internasional, termasuk dari OKI, Liga Arab, Uni Afrika, Liga Muslim Dunia, Asosiasi Ulama Palestina, termasuk dari DMI (Dewan Masjid Indonesia). 

Bahkan delapan Menteri Luar Negeri dari negara-negara anggota OKI yang sekaligus juga anggota BOP (Board of Peace) juga sudah membuat pernyataan bersama menolak penutupan Masjid Al-Aqsha dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, HAM, dan berpotensi menghadirkan ketegangan serta menjauhkan dari perdamaian, namun juga diabaikan Israel. 

Alih-alih mendengarkan dan menghormati, pihak Zionis Israel malah secara sepihak memutuskan untuk terus menutup Masjid Al-Aqsha hingga sesudah Ramadan, sehingga tidak memungkinkan penyelenggaraan salat Idulfitri di dalam Masjid Al-Aqsha. 

Maka menurutnya, kekhawatiran banyak pihak bahwa Israel memanfaatkan gelar perang bersama AS menyerang Iran, yang menyita perhatian umat dan publik dunia, sebagai momentum untuk semakin memudahkan agendanya dalam penguasaan atas Masjid Al-Aqsha, baik secara pengelolaan dengan mengubah ketentuan hak pengelolaan di bawah lembaga wakaf di bawah otorita Yordania menjadi di bawah pengelolaan lembaga rabi Yahudi, untuk akhirnya nanti menguasai secara fisik dengan mendirikan Kuil atau Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha, semakin mendapatkan pembenarannya.

Dia mengingatkan agar umat, sesuai kewenangan dan kemampuannya, memperjuangkan pembukaan Masjid Al-Aqsha dan pembebasannya dari penguasaan dan penjajahan Zionis Israel. 

Ia mewanti-wanti hal ini karena khawatir bahwa apabila momentum besar Idulfitri yang di luar Masjid Al-Aqsha semarak dengan syiar Islam, tetapi tragedi Masjid Al-Aqsha yang sepi karena ditutup Israel dibiarkan tanpa kepedulian, maka hal itu akan membuat Zionis Israel semakin berani untuk melanjutkan penutupan Masjid Al-Aqsha secara permanen.

Hal itu juga akan membuat mereka semakin leluasa mewujudkan agenda mendirikan klaim adanya Kuil atau Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha sebagai bagian dari perwujudan klaim negara Israel Raya. Itu juga berarti mengubur cita-cita menghadirkan negara Palestina, bahkan dalam bentuk dua negara sekalipun. 

Bila dibiarkan terjadi, maka hal itu selain menjauhkan hadirnya perdamaian juga tidak sesuai dengan fitrah umat Islam dan tidak sejalan dengan prinsip bahwa Idulfitri adalah satu dari dua hari raya bergembiranya umat Islam.

"Karena mereka akan berduka dengan hilangnya Masjid Al-Aqsha, baik eksistensinya maupun peran mensejarahnya. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Maka bila umat menuntut penghentian perang, umat juga jangan pernah melupakan Masjid Al-Aqsha, karena melanjutkan perang dan melupakan Masjid Al-Aqsha itu juga agenda penjajah Israel,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait