Lonjakan biaya energi cenderung meningkatkan inflasi dan dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang melemahkan permintaan terhadap logam mulia non-yielding seperti emas, meskipun emas juga dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Menurut alat FedWatch milik CME Grou pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 58% untuk setidaknya satu kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin sebelum Desember.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang sebelumnya mendukung penurunan suku bunga, mengatakan bank sentral sebaiknya menghapus kecenderungan pelonggaran kebijakan dan membuka peluang kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS jatuh ke rekor terendah pada Mei karena lonjakan harga bensin meningkatkan kekhawatiran terhadap memburuknya daya beli, menurut survei yang dirilis Jumat. dilansir cnbcindonesia.com