Pengalaman tersebut juga dirasakan langsung oleh murid. Qonita Annisa, salah satu siswa murid SDN 009 Kayu Kapur, mengaku mampu menyesuaikan diri menghadapi tes. “Di awal saya merasa cukup tegang, tetapi setelah membaca soal sudah mulai santai. Soal-soal yang diberikan cukup menantang. Saya ingin mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk ujian berikutnya,” tuturnya.
Sementara itu, di Provinsi Nusa Tenggara Barat, pelaksanaan TKA diikuti oleh 100.060 murid dari 4.117 satuan pendidikan. Pada gelombang awal, sebanyak 77.894 murid dari 3.133 satuan pendidikan telah mengikuti TKA. Untuk SDLB sendiri, sebanyak 41 satuan pendidikan turut mengikuti pelaksanaan tes.
Di Provinsi Bengkulu, sebanyak 34.694 murid dari 1.526 satuan pendidikan mengikuti TKA dengan antusiasme tinggi. Guru SD Islam Al Azhar 51 Kota Bengkulu, Abdul Azis, menyampaikan bahwa kesiapan murid terlihat dari suasana ujian yang lebih tenang dan positif.
“Pada awalnya murid mungkin merasa jenuh, namun saat pelaksanaan TKA, mereka terlihat lebih tenang dan siap. Bahkan, senyum terlihat dari wajah murid saat keluar dari ruang ujian,” ungkapnya.
Berbagai gambaran di lapangan menunjukkan bahwa TKA tidak lagi dipersepsikan sebagai ujian yang menegangkan, melainkan sebuah proses belajar. Suasana yang tenang, kesiapan yang matang, serta dukungan dari lingkungan belajar menjadikan TKA sebagai pengalaman yang bermakna bagi murid.