Meutya menilai semangat Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan sebagai pengingat bahwa pers lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan sekadar kecepatan dan sensasi.
“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing,” jelasnya.
Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak media untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi jurnalistik agar ruang digital Indonesia tetap sehat, beradab, dan melindungi warga.
“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya. dilansir komdigi.go.id