Meski terjadi lonjakan, Airlangga menyebut bahwa tekanan harga masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan asumsi dalam APBN. "Harga WTI per hari ini sudah 73 dolar, namun APBN kita di 70 dolar jadi relatif masih terkendali," tuturnya.
Mengutip laporan Bloomberg, menanggapi situasi ini, Airlangga tidak menampik kemungkinan terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Ia membandingkan situasi saat ini dengan pecahnya perang Rusia-Ukraina yang sebelumnya juga memicu lonjakan harga energi global.
"Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik," kata Airlangga mengutip Bloomberg, Senin (2/3/2026).
Namun demikian, Airlangga memastikan bahwa kenaikan harga BBM tidak akan terjadi secara signifikan dalam waktu dekat. Hal ini didasari oleh masih cukupnya pasokan minyak mentah dunia, di mana AS berkomitmen meningkatkan suplai dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) juga menambah kapasitas produksinya.
"Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya," imbuhnya.
Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Airlangga mengungkapkan bahwa PT Pertamina (Persero) telah menjalin sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat untuk mendiversifikasi sumber pasokan minyak.