"Iran bermaksud agar hal itu diartikan sebagai pengakuan atas perannya di kawasan, haknya untuk mengembangkan kemampuan pertahanan, serta program nuklirnya yang bersifat damai," kata Mohammed. "Sebaliknya, AS dan Israel memandangnya sebagai langkah yang berpotensi melegitimasi aktivitas yang mereka anggap mengancam stabilitas, seperti dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan atau pengembangan rudal balistik."
"Konsekuensinya, jika kedua pihak tetap berpegang pada interpretasi yang saling bertentangan terhadap persyaratan tersebut, hal itu akan menjadi hambatan besar bagi tercapainya solusi diplomatik," katanya.
PEMBAYARAN REPARASI
-- Tuntutan reparasi sangat tidak realistis karena akan mengharuskan AS dan Israel mengakui kesalahan perang, kata analis politik dari Gaza, Mustafa Ibrahim.
Ibrahim berpendapat bahwa menuntut reparasi lebih tampak seperti "strategi tawar-menawar politik" untuk memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi, daripada syarat yang "secara realistis dapat diimplementasikan dalam waktu dekat."
-- Masalah reparasi sangat rumit, karena perpecahan politik dan risiko veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat proses pencapaian konsensus mengenai mekanisme kompensasi menjadi sangat memakan waktu, kata Khaled Al-Qahtani, peneliti ilmu politik asal Arab Saudi di Universitas Imam Mohammad bin Saud.