Tentu saja, bukan berarti setiap kader harus menjadi psikolog atau psikiater. Namun mereka dapat dilatih mengenali tanda-tanda awal depresi, risiko bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan zat, atau gangguan kecemasan. Mereka bisa menjadi fasilitator, tak perlu menjadi pengganti tenaga profesional.
Pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Setiap depresi individual yang tertangani lebih dini, berarti produktivitas generasi yang terselamatkan. Siswa yang segera mendapat bantuan psikologis, akan kembali belajar dengan baik. Setiap pegawai yang pulih dari burnout, akan kembali menggulirkan ekonomi keluarga. Dalam bahasa ekonomi kesehatan, investasi pada layanan kesehatan mental bukan pengeluaran, melainkan investasi produktivitas nasional.
Namun tantangan terbesar tak melulu masalah anggaran. Yang paling sulit justru mengubah kebiasaan berpikir. Selama masyarakat masih percaya bahwa meminta bantuan psikolog adalah tanda kelemahan, layanan terbaik sekalipun akan tetap sepi pengunjung. Karena itu, klinik kesehatan mental harus menjadi ruang yang dipandang biasa. Sama wajarnya dengan keberadaan klinik gigi ataupun apotek. Tidak eksklusif, tidak menyeramkan, dan tidak membuat orang merasa sedang dicap "gila".