Di bidang pencernaan, riset yang dimuat dalam Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine menunjukkan minyak atsiri daun salam memiliki sifat antibakteri terhadap beberapa bakteri penyebab gangguan saluran cerna, seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
Hal ini menjelaskan penggunaan tradisional daun salam untuk membantu meredakan gangguan perut ringan.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam katalog tanaman obat Indonesia mencatat daun salam berpotensi sebagai antiinflamasi alami. Kandungan eugenol diketahui mampu menekan respon peradangan ringan pada jaringan tubuh.
Meski demikian, dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rita Ramayulis, menegaskan konsumsi rebusan daun salam tidak boleh dijadikan terapi utama untuk penyakit kronis.
“Herbal dapat menjadi pendamping, tetapi pasien tetap harus mengikuti pengobatan medis dan konsultasi dokter, terutama penderita diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal,” ujarnya dalam publikasi edukasi kesehatan.
Para ahli juga mengingatkan bahwa dosis konsumsi harus wajar. Konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan iritasi lambung pada individu sensitif.