Beranda Inspirasi kisah Londo Ireng: Sejarah Tentara Afrika yang Didatangkan Belanda Usai Perang Diponegoro

kisah Londo Ireng: Sejarah Tentara Afrika yang Didatangkan Belanda Usai Perang Diponegoro

Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung istilah “Londo Ireng” saat berpidato dalam Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7). Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan pihak-pihak yang menurutnya tidak berpihak pada kepentingan bangsa

0
Londo Ireng: Sejarah Tentara Afrika yang Didatangkan Belanda Usai Perang Diponegoro

Menurut catatan sejarah, gelombang pertama pada periode 1831–1836 berjumlah 112 orang. Berikutnya, pada 1837–1841 didatangkan sekitar 2.100 orang, sementara antara 1860–1872 sekitar 800 orang lagi direkrut. Mereka dikontrak selama 12 tahun sebagai tentara bayaran.

Para serdadu ini kemudian dikenal dengan nama Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam, yang dalam masyarakat Jawa lebih populer disebut Londo Ireng.

Mereka ditempatkan di berbagai garnisun militer Belanda, seperti Semarang, Salatiga, dan Solo. Namun jumlah terbesar ditempatkan di Tangsi Kedungkebo, Purworejo, karena wilayah Bagelen saat itu masih dianggap rawan akibat sisa-sisa perlawanan pasukan Diponegoro.

“Dari jumlah itu kemudian disebar ke beberapa tangsi militer Belanda diantaranya di Semarang, Salatiga, dan Solo. Tetapi yang paling banyak ditempatkan di tangsi Kedungkebo Purworejo karena di daerah Bagelen dianggap daerah paling rawan,” kata Atas.

Selain menjaga keamanan di Jawa, para tentara Afrika tersebut juga diterjunkan ke berbagai operasi militer Belanda di Lampung, Bali, Sumatera Selatan hingga Aceh.

Jejak Londo Ireng Masih Bertahan di Purworejo

Setelah menyelesaikan masa dinas, sebagian tentara Londo Ireng memilih menetap di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial bahkan memberikan berbagai fasilitas kepada mereka sebagai bentuk penghargaan atas jasa militernya.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait