"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya, Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Oleh karena itu, setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."
Berkenaan dengan peristiwa sebagaimana diterangkan di dalam ayat tersebut, Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar (hlm.2498-2499) menjelaskan bahwa keinginan Nabi Musa ‘alaihi salam dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala didasari oleh kecintaannya. Beliau sangat mencintai-Nya sehingga ingin dapat "bersemuka", tidak sekadar dapat berbicara langsung. Memang demikianlah wataknya.
Perlu kita pahami secara utuh bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau merupakan teladan bagi umatnya, maka ketika sadar dari pingsannya, beliau berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” Beliau menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Suci dan menyatakan bahwa dirinya bertobat.