Dalam aspek daya tahan tubuh, penelitian yang dimuat di jurnal Advances in Therapy mencatat suplementasi bawang putih dapat menurunkan frekuensi dan durasi infeksi saluran pernapasan pada kelompok uji dibandingkan plasebo.
Efek ini dikaitkan dengan peningkatan aktivitas sel imun dan sifat antiinflamasi alami bawang putih.
Selain itu, kemampuan antimikroba bawang putih juga telah diuji secara laboratorium.
Studi pada Applied Microbiology and Biotechnology menunjukkan allicin efektif menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri patogen, termasuk Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, yang kerap menjadi penyebab infeksi.
Meski manfaatnya luas, para ahli menegaskan konsumsi bawang putih tetap harus proporsional. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Rita Ramayulis, menyampaikan bahwa konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan iritasi lambung, bau napas menyengat, serta meningkatkan risiko perdarahan pada pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah.
“Bawang putih sebaiknya digunakan sebagai pendukung kesehatan, bukan pengganti terapi medis,” ujarnya dalam publikasi edukasi kesehatan.