Politisi Partai Gerindra ini mengatakan bahwa NU berdiri saat kondisi bangsa yang masih terjajah, miskin, dan minim pendidikan. Namun, para ulama dan kiai saat itu memiliki kesadaran tinggi terhadap nasib bangsa, rakyat, dan umat.
“Pada saat usia NU berdiri, yakni tahun 1926, kondisi rakyat kita, bangsa kita, dalam keadaan miskin, dalam keadaan tidak berpendidikan, dalam keadaan serba kekurangan. Tapi kesadaran yang tinggi dari para ulama, kesadaran yang tinggi dari para kyai akan bangsanya, akan rakyatnya, akan umatnya, kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama,”jelasnya.
Selanjutnya dia mengatakan bahwa sejak NU bediri telah menjadi motor perlawanan terhadap penjajah melalui pondok pesantren dan pengajaran agama yang menanamkan semangat heroisme dan keadilan.
“Karena itu, heroisme untuk menentang penjajah, menegakkan keadilan, mengusir penjajah, mulai menggeliat sejak NU berdiri,” tegasnya.