BEIRUT, 30 Juli (Xinhua) -- Berlutut di atas puing-puing rumahnya yang hancur, Dalal Atwi, warga Zawtar al-Gharbiyah di Lebanon selatan yang sempat mengungsi selama berbulan-bulan, meraup segenggam tanah, menciumnya, lalu memandang sekeliling ke arah apa yang tersisa dari desanya.
"Hal pertama yang saya lakukan saat tiba adalah mencium tanah ini," kata wanita berusia 50 tahun itu kepada Xinhua. "Ini adalah tanah saya. Tanah ini bercampur dengan keringat dan jerih payah kami. Saya bersyukur kepada Tuhan karena kami akhirnya bisa kembali ke desa kami."
Bagi Atwi, kepulangan itu bukan sekadar kembali ke rumah setelah berbulan-bulan mengungsi. Momen tersebut menjadi perjumpaan yang sarat emosi dengan kampung halamannya yang telah berubah akibat perang.
Atwi merupakan salah satu dari sekitar 320 keluarga yang diizinkan memasuki Zawtar al-Gharbiyah sepekan setelah tentara Lebanon mulai dikerahkan di wilayah tersebut dalam tahap uji coba pengaturan keamanan baru di Lebanon selatan. Inisiatif itu menjadikan Zawtar al-Gharbiyah sebagai kota pertama yang mengizinkan warga yang sempat mengungsi untuk kembali, seiring dimulainya persiapan rekonstruksi.
Desa tempat Atwi membangun kehidupannya kini nyaris tidak lagi menyerupai kampung yang pernah ditinggalkannya. Rumah-rumah telah berubah menjadi puing-puing, kebun-kebun zaitun rusak akibat pertempuran, dan kerusakan yang begitu parah membuat banyak warga tidak lagi dapat mengenali tempat yang dulu mereka tinggali.