Selain itu, sekitar 34 persen peserta belum mendapatkan tawaran resmi, tetapi sudah terdapat indikasi atau peluang untuk ditawarkan bekerja, sementara sekitar 36 persen belum mendapatkan tawaran kerja.
“Data ini penting dibaca secara utuh. Artinya, program magang tidak otomatis menjamin seluruh peserta langsung bekerja, tetapi sudah menunjukkan adanya jalur transisi yang nyata dari magang menuju kesempatan kerja,” kata Faried.
Dari peserta yang mendapatkan tawaran kerja, sektor yang paling banyak menyerap antara lain sektor keuangan sebesar 23,4 persen, perdagangan besar/wholesale trade sebesar 17,9 persen, manufaktur sebesar 16,5 persen, dan kesehatan sebesar 10,3 persen.
“Ini menjadi masukan bagi Kemnaker untuk memperkuat kolaborasi dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi, sekaligus memperluas partisipasi sektor lain, agar kesempatan peserta semakin beragam,” ujarnya.
Ia berharap, Magang Nasional 2026 dapat memberi dampak dalam tiga lapis, mulai dari peningkatan kompetensi dan pengalaman peserta; tersedianya talenta muda yang siap kerja bagi perusahaan; dan berkurangnya kesenjangan kompetensi di pasar kerja nasional.
“Program Magang Nasional menjadi salah satu upaya konkret pemerintah dalam mengurangi pengangguran muda, terutama pengangguran lulusan perguruan tinggi, melalui pendekatan yang lebih langsung,” kata Faried.